Setelah Nabi Muhammad SAW mendengar kabar bahwa Abdullah bin Amr bin Ash berpuasa setiap hari, dan beliau selalu shalat di malam hari, maka Nabi bertanya kepadanya: “apakah kamu menjalankan yang demikian itu”. Nabi kemudian menasehati dia, “bahwa jasadmu mempunyai hak, begitu juga matamu mempunyai hak yang harus terpenuhi, apalagi keluargamu yang harus kamu penuhi hak-haknya”. Ini seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam buku referensi bernama Al Jami’us Shohih, bab haq al jism fi al syaum.

Kisah di atas menuturkan kepada kita bahwa manusia perlu dengan bijak membagi waktunya, dan tidak terlalu banyak dalam hal beribadah atau disebut Guluw, agar dapat saling berbagi tanggung jawab dan hak yang perlu dipenuhi.

Dunia sangat berarti bagi umat manusia, karena merupakan ladang akhirat, yang merupakan tempat menanam, dan juga tempat investasi. Banyak orang yang tergoda, bahkan ceroboh, mabuk, untuk meninggalkan kewajiban yang harus mereka lakukan, seperti seorang suami yang melupakan kewajiban untuk melahirkan istri dan anak atau sebaliknya anak yang bahagia dan melupakan kewajibannya untuk menghormati. dan berdoa untuk tuannya.

Begitu pula dengan para pejabat yang tersihir dengan gemerlap dunia hingga mereka melupakan tanggung jawabnya kepada atasan dan bawahannya. Terkadang ada ulama yang senang dengan kemegahan dunia dan berani menjual jati dirinya sebagai pedoman bagi manusia, yaitu dunia selalu menggoda orang yang jatuh cinta padanya. Saking beruntungnya orang yang selalu mengingat tujuan hidupnya ini selalu waspada dan berpesan agar dirinya tidak terkena racun dunia, sehingga kesempatan untuk hidup di dunia ini dimanfaatkan secara maksimal.

Dalam hal ini, Alquran mengingatkan bahwa kehidupan akhirat itu sangat penting, sama seperti urusan dunia yang tidak kalah pentingnya, hanya untuk bisa menyesuaikan diri dan menyatu sehingga urusan dunia ini dan akhirat berjalan beriringan. Menurut Imam Ibnu Kasir, ayat ini menjelaskan pentingnya menggunakan harta untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah agar mendapat pahala di akhirat, dan tidak melupakan urusan duniawinya, menempatkan hak orang lain yang harus diberikan kepada Tuhan, untuk dirinya dan keluarganya. Sedangkan menurut Baghawi dalam Tafsirnya yang mengutip pendapat Imam Suday menjelaskannya dengan sedekah dan persahabatan.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa akhirat sangat penting, namun dunia tidak kalah pentingnya, beribadah adalah suatu kebutuhan, sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban keluarga, keduanya harus saling melengkapi dan saling melengkapi. menjadi tidak terpisahkan. Doa itu penting, tetapi tidak ada alasan untuk meninggalkannya sendiri karena alasan pekerjaan atau untuk banyak proyek di atas meja.

Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, terutama umat Islam harus kuat di berbagai bidang, tidak hanya di akhirat, tetapi di semua bidang kehidupan, baik sosial, budaya maupun ilmiah, sehingga mampu berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *